Budaya yang Tidak Terucap – Rahasia di Balik Sifat Orang Jepang

Baik pernah datang ke Jepang atau tidak, tampaknya banyak orang berpendapat bahwa orang Jepang itu baik dan peduli. Faktanya, gambaran umum tersebut berasal dari karakter nasional orang Jepang yang “selalu berupaya untuk bertindak seramah mungkin”. Dalam komunikasi, kita terkadang menemukan konflik yang tidak terhindarkan. Untuk mencegah hal itu terjadi, orang Jepang memanfaatkan “tatemae”, yang berarti “berperilaku sesuai norma sosial”. Pada dasarnya, “tatemae” adalah tindakan yang dilakukan hanya untuk terkesan “baik”. Jadi, orang Jepang berusaha untuk berbicara dan bertindak sebaik mungkin agar terhindar dari masalah dengan cara apa pun, meski terkadang mereka harus berbohong demi menjaga hubungan antarpribadi. Pada artikel ini, penulis akan mengulas tentang “tatemae” sambil menjelaskan dan menganalisis keadaan masyarakat, serta karakteristik orang Jepang yang sesungguhnya, dari perspektif penulis (orang Jepang) yang lahir dan besar di negara tersebut.

Cara Berpikir Kolektif: Jika Mayoritas Berpikir “Benar”, Maka Itu “Benar”

Two Japanese women on an outdoor street
Mac Odolinski / Shutterstock.com

Orang Jepang lebih memprioritaskan bertindak sebagai sebuah kelompok daripada bertindak secara individu. Contohnya, ketika menghadapi situasi tertentu, jika sebagian besar orang merespon dengan cara yang sama, maka respon itu dianggap tepat. Hal itu terjadi karena sejak dulu pendidikan Jepang selalu menganjurkan untuk berperilaku berdasarkan kelompok. Artinya, siapa pun yang bertindak berbeda dari kebanyakan orang, sering kali dipandang rendah.

Meskipun informasi atau tindakan tersebut salah, semua tetap dianggap benar jika mayoritas orang menganggapnya demikian. Memang perlu waktu, tetapi kebenaran pada akhirnya pasti akan terungkap. Namun, orang-orang yang dibesarkan dengan ideologi seperti itu sering meyakini bahwa mayoritas-lah yang benar dan minoritas salah. Seiring berkembangnya era globalisasi, ideologi ini perlahan mulai dipertimbangkan kembali dalam beberapa tahun terakhir, tetapi konsep “berbeda dari yang lain” masih belum tersebar luas di Jepang.

In line for a train akasaka mitsuke
Michael von Aichberger / Shutterstock.com

Di sisi lain, ada konsep “migi e narae” yang melahirkan kebiasaan luar biasa, yaitu mematuhi peraturan di tempat umum. Berbaris rapi saat menunggu kereta dan mendahulukan penumpang yang turun sudah merupakan hal yang wajar bagi orang Jepang. Bahkan, ketika naik eskalator, mereka membiarkan satu sisi kosong untuk digunakan orang yang sedang terburu-buru. Mengantre di restoran atau saat membayar di mini market juga bukanlah pemandangan yang aneh di negara ini, karena orang Jepang selalu mengikuti aturan di mana pun mereka berada untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi berbagai pihak. Dengan demikian, ideologi untuk bertindak secara berkelompok yang dibahas sebelumnya tidak hanya memiliki sisi negatif, tetapi juga sisi positif.

Konsep “Tatemae”: Mengenyampingkan Perasaan Sendiri untuk Kebaikan Orang Lain

Crowded street in Shibuya
Deman / Shutterstock.com

Orang Jepang selalu memikirkan pendapat orang lain dalam segala hal, di mana pun mereka berada atau apa pun yang mereka lakukan. Oleh sebab itu, orang Jepang berusaha semampu mereka untuk tidak mengganggu orang lain. Namun, dari sana muncul perilaku yang tidak biasa atau aneh, yaitu “tatemae”. Terlepas dari apa yang dipikirkan seseorang tentangnya, prioritas utama diberikan untuk orang lain, dan orang tersebut mungkin tidak akan mengutarakan perasaan yang sesungguhnya agar terlihat lebih baik di depan publik.

Orang Jepang cenderung bersifat pemalu dan enggan berbicara dengan orang asing. Ditambah lagi, sifat kehatian-hatian dan memperhatikan pendapat orang lain menyebabkan mereka tidak terbuka. 

Misalnya, ketika seseorang sedang berada di pesta minum yang dihadiri banyak orang tidak dikenal. Lalu, orang tersebut berbincang-bincang dengan orang di sebelahnya dan mendapatkan undangan untuk datang kembali jika ada pesta. Walaupun jawaban yang diberikan umumnya adalah “Ya, tentu saja!”, itu sebenarnya hanya sekadar basa-basi. Apabila mereka memang cocok satu sama lain, bisa saja mereka memutuskan untuk bertemu lagi. Namun, seringnya, jawaban “positif” adalah cara orang Jepang menolak ajakan seseorang dengan sopan. Tatemae diaplikasikan di sini untuk menunjukkan bahwa mereka tertarik, padahal tidak. Hal ini tidak dianggap berbohong, ia melakukannya hanya agar terhindar dari konflik dan membuat image yang baik tentang dirinya.

Benarkah Orang Jepang Selalu Berhati-hati? Bahaya dari Berpikir Komunal: Kegagalan Bukanlah Pilihan!

Di Jepang, orang-orang biasanya terlalu sangat berhati-hati dan overthinking terhadap orang-orang di sekitar mereka untuk menghindari berbuat kesalahan. Ini menjadi norma dalam masyarakat Jepang, dan juga memunculkan tradisi sulit memaafkan atau membiarkan kesalahan. Penyebabnya berasal dari sistem pendidikan Jepang. Para siswa diajarkan untuk takut melakukan sesuatu yang berbeda (seperti dijelaskan di atas) dan memahami betapa pentingnya hidup berkelompok atau berpikir komunal. Akibatnya, orang Jepang menilai bahwa fenomena sosial ini bukanlah suatu masalah, melainkan sebuah “kehatian-hatian”

Waiting for a train in Tokyo
Fiers / Shutterstock.com

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi kepada seseorang yang membuat kesalahan di Jepang? Berikut adalah contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika naik kereta. Di negara lain, jika Anda tidak sengaja menubruk seseorang karena kereta bergetar, situasi akan cepat terselesaikan dengan permintaan maaf, diikuti balasan “tidak apa-apa” dari orang yang Anda tabrak. Sementara di Jepang, permintaan maaf biasanya tidak ditanggapi dengan jawaban sama sekali atau ada yang membunyikan lidah (ck) untuk menunjukkan rasa jengkel (walaupun jarang dilakukan). Orang tersebut kemudian dianggap telah keluar dari kelompok mayoritas yang berupaya menjaga keharmonisan karena sudah mengganggu orang-orang di sekitar. Mungkin tampak seperti berhati dingin, tetapi itu adalah kebenaran budaya Jepang. Tentu saja, masih banyak orang baik yang merespon permintaan maaf seperti di kereta tadi dengan jawaban rendah hati. Namun, kebiasaan untuk menyatakan seseorang salah atau buruk meski itu kesalahan sepele tetap terlihat jelas.

Crosswalk in Japanese  city
VTT Studio / Shutterstock.com
crowd at Shinjuku
MrB11 / Shutterstock.com

Baik besar atau kecil kesalahan yang dilakukan, semua akan dilabeli buruk. Beberapa orang bahkan menyebut Jepang sebagai negara tanpa kesempatan kedua karena sulitnya memaafkan kesalahan.

Ini juga berlaku di tempat kerja. Apabila terjadi kesalahan, mereka akan memeriksa penyebabnya secara menyeluruh dan mencari pertanggungjawaban. Cara berpikir orang Jepang tidak berorientasi pada masa depan, mereka lebih suka bertanya “Bagaimana itu bisa terjadi?” daripada “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”.

Misalnya, suatu perusahaan yang mencoba mengembangkan model bisnis baru sering kali dikritik. Meskipun inovasi tersebut berhasil, mereka tidak akan menerima perhatian masyarakat lebih dari jika mereka gagal. Butuh waktu bertahun-tahun bagi perusahaan perintis untuk mendapatkan kesuksesan di Jepang, karena struktur sosial negara sulit menerima hal-hal baru.

Sebenarnya, manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan, bahkan seseorang tumbuh dan belajar dari membuat kesalahan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Winston Churchill, “Jika Anda tidak membuat kesalahan, artinya Anda tidak benar-benar mencoba.” Namun, ketakutan orang Jepang terhadap kegagalan lahir dari ideologi bahwa mayoritas selalu benar. Mereka terjebak dalam pertanyaan, “Apa yang harus saya lakukan jika membuat kesalahan?” Hasilnya, orang Jepang lebih banyak mengadopsi sikap beradaptasi daripada proaktif mencoba menunjukkan kelebihan mereka sendiri, serta berpegang teguh pada metode terlihat baik untuk menghindari kesalahan ketimbang mencoba hal-hal baru.

Eksklusivitas? Nilai Konservatif Lahir Dari Pendidikan Jepang dan Struktur Sosial

Ideologi orang Jepang yang mengikuti mayoritas, menghindari berbuat kesalahan, dan menyembunyikan niat mereka yang sebenarnya agar tidak menimbulkan konflik juga melahirkan cara berpikir “eksklusif” dan “konservatif” mengenai hal-hal dari negara lain. Meskipun mereka dapat menerimanya, hal-hal asing cenderung dikesampingkan dan diperlakukan secara berbeda.  

Contoh paling nyata dari “hal-hal” asing adalah makanan. Sudah merupakan hal umum bagi negara-negara di dunia untuk menerima masakan dari luar negeri untuk disantap di negara mereka. Sama seperti ramen dan sushi yang tersedia di berbagai negara, masakan internasional, seperti Meksiko, Itali, Prancis, Cina, Thailand, Vietnam, Taiwan, Korea, dan sebagainya dapat dinikmati juga di Jepang. Akan tetapi, yang membedakan Jepang adalah cara penyajiannya. Mereka membuat masakan dari luar negeri menjadi ke-Jepang-an. Tacos dari Meksiko dibuat menjadi taco rice; Omelet Prancis menjadi “omurice”; Pizza Italia disajikan dengan topping ala Jepang seperti jagung dan mayones; ada pula “naporitan” pasta dengan bawang bombay, paprika hijau, daging ham, dan lebih banyak saus tomat; kemudian ada doria dengan saus krim seperti gratin dan keju di atas nasi pilaf, serta beragam hidangan dari seluruh dunia yang telah dimodifikasi dalam gaya Jepang. Sungguh menarik melihat kreativitas orang Jepang memasukkan hal-hal dari negara lain ke dalam kehidupan mereka. Selain itu, bahasa asing, terutama bahasa Inggris, juga telah diadopsi ke dalam bahasa Jepang yang disebut wasei-eigo (和製 英語) dan ditulis dengan huruf katakana. Oleh karenanya, orang Jepang bisa menikmati banyak kesempatan untuk merasakan budaya lain di kehidupan sehari-hari.

Foreign-style Japanese food: naporitan, pizza, taco rice, omurice

Di sisi lain, ketika berhadapan dengan orang asing, masalahnya akan bertolak belakang karena orang Jepang berpikir eksklusif. Contoh paling jelas adalah kasus orang asing yang akan pindah ke Jepang. Banyak properti sewa yang tidak menerima orang asing atau menyeleksinya secara ketat tanpa berusaha untuk mengenal mereka terlebih dulu. Mereka ditolak hanya karena mereka orang asing. Fakta bahwa Jepang memiliki banyak aturan juga menjadi penyebabnya. Di masa lalu, ada beberapa kasus terkait orang asing yang sulit mengikuti peraturan dan diminta untuk pindah. Sampai saat ini, masih ada sejumlah apartemen yang tidak menerima orang asing. Bahkan, jika penyewa telah memasuki tahap persetujuan aplikasi apartemen, mereka sering kali ditolak karena mereka adalah orang asing.

Crowd outside Yodobashi camera
Cidale Federica / Shutterstock.com

Mungkin persoalan di atas bukan masalah besar bagi orang-orang yang datang ke Jepang hanya untuk berlibur. Namun, hal itu pun sebenarnya juga terjadi di restoran-restoran yang menawarkan masakan Jepang atau masakan Cina, mereka menolak orang asing karena staf di sana tidak bisa berbahasa asing. Memang sekarang jumlah toko yang mendukung berbagai bahasa dan melayani orang asing semakin bertambah, tetapi masih banyak toko tua yang tidak bisa melayani orang asing. Mereka mengklaim bahwa menerima pelanggan Jepang saja cukup menutupi biaya toko. Hal itu didukung dengan banyaknya aturan di Jepang, seperti cara menggunakan sumpit atau bagaimana etika naik kereta, yang dianggap penting bagi orang Jepang. Jadi, melihat orang asing yang kesulitan mematuhi aturan membuat orang Jepang merasa tidak nyaman. Apakah Anda benar-benar tahu tradisi dan etiket yang berlaku di Jepang atau tidak, itu bukanlah alasan. 

Jika biasanya pengaruh asing dipandang sebagai hal yang positif, dan dapat menghilangkan konformitas dan pemikiran mutlak dalam masyarakat, Jepang justru sering kali merasa terancam. Mereka khawatir orang dan budaya asing akan mengubah cara hidup orang Jepang. Pemikiran komunal tentang orang yang melanggar peraturan adalah salah, bahkan membentuk suasana dengan konformitas yang lebih kuat.

Kesimpulan

Two Japanese women in a crowded outdoor space
Mahathir Mohd Yasin / Shutterstock.com

Tempat wisata, lokasi bersejarah, dan teknologi terbaru melahirkan Jepang yang modern dengan budaya trendi dan unik. Tidak diragukan lagi, Jepang memiliki sejuta pesona yang memikat hati semua orang. Namun, di era globalisasi ini, Jepang masih tertinggal dalam bidang-bidang tertentu seperti metode komunikasi dan bagaimana menangani pengunjung asing. Sebagai negara yang memadukan hal-hal kuno dan modern, Jepang perlu mengombinasikan sumber pariwisata yang berkualitas dan kepatuhannya melestarikan budaya kuno dengan menerima berbagai opini yang berbeda dari mayoritas, mengadopsi cara berpikir yang lebih inovatif, serta mengekspresikan pandangan dan menerima keberagaman. Dengan demikian, Jepang dapat benar-benar merepresentasikan negara yang indah, aman, dan damai.

Jika Anda ingin memberikan komentar pada salah satu artikel kami, memiliki ide untuk pembahasan yang ingin Anda baca, atau memiliki pertanyaan mengenai Jepang, hubungi kami di Facebook!

The information in this article is accurate at the time of publication.

0 Shares: